Ini
bukan cerita tentang para seniman dan budayawan yang hidup dan menghidupkan
festival. Tidak, bukan tentang mereka secara pribadi. Tapi tentang kita.
Iya,
kita yang mengenal nilai hidup melalui pertunjukan berupa festival.
Aku
tinggal di Papua sudah sekian tahun. Bukan kelahiran Papua, datang ke Papua ‘sendiri’
tanpa keluarga, dan bahkan awalnya tanpa kenalan sama sekali. Aku datang untuk
bekerja. Dengan alasan awal adalah pergi ke Papua yang eksotis. Dan setelah
sekian tahun, masih saja aku menemui respon teman yang begini, “Wow, hebat ya
kamu bisa jauh sekali!” “Wah, asik ya di Papua!” “Wah, emang kamu bener-bener
belum berubah ya, klayapan mulu!”
Hahaha,
yang dimuat komen narsis semua yak ;p
Anyway,
sekian tahun di Papua. Seperti juga komen teman-temanku, akupun mengharap bisa
melihat eksotisme Papua yang aku dengar ketika dulu aku belum menginjak tanah
ini. Aku mengharap betul-betul bisa merasakan segala yang pernah aku dengar. Bahkan
sampai sekarang.
Tapi,
hidupku ternyata tidak sejauh itu mendalami Papua. Aku tinggal di tempat yang
sangat mirip….. dengan tempat asalku. Aku ketemu orang dengan pola pikir dan
gaya hidup seperti yang ada di tv, kalo ga bisa aku sebut Jawasentris ya J
Hanya
beberapa kali sepanjang sekian tahun ini aku bisa mengunjungi tempat-tempat
eksotis. Mahal braaayyyyyy… hahaha! Ke pedalaman emang beneran mahal, dan perlu
waktu sangat panjang kalo mau ‘menyelami hidup masyarakat asli’.
Tapi,
(sebetulnya) alasan terbesarku adalah gamang. Aku akui aku asing dengan
kehidupan asli masyarakat di tanah ini. Salahkan saja aku, yang tidak bisa
melebur dengan lingkunganku sendiri. Aku terima.
Hey,
kembali ke festival. Minggu lalu aku melihat sebuah festival masyarakat Kamoro.
Di sana teman-teman dari suku Kamoro memakai pakaian tradisonal,
mempertunjukkan tarian, menggelar hasil karya mereka, membuat simulasi
pembuatan kerajinan, dan menggelar makanan tradisionalnya sejak dari proses
sampai bagaimana makanan itu dimakan.
Yang
datang ke festival ini, kebanyakan turis lokal. Ya yang seperti aku ini.
Jadilah ada ajang foto-foto, bergaya bersama yang berpakaian tradisional, ikut
menari dan bersenang-senang. Kami semua, menikmati dengan cara masing-masing. Dan kepalaku, sudah pingin menuliskan
kegetiran lagi.
*oiya,
rasanya kepala ini kok isinya protes melulu :D
Berbincang
dengan mbak Luluk, pendamping grup ini, festival ini tujuannya adalah
mengedukasi masyarakat di luar lingkungan asli Kamoro. Bahwa kehidupan mereka
punya nilai sangat tinggi, dan perlu dihargai sebagai budaya khas yang tak
perlulah dibandingkan dengan budaya lain, apapun alasannya. Karena budaya
sifatnya sangat individual, tujuannya untuk melindungi dan menghidupkan
masyarakatnya. Bukan sekedar menyamakan identitas dengan standard modernitas
yang dibuat oleh budaya lain.
Kegemasanku
justru berawal dari perbincangan itu. Betapa kita perlu sebuah festival untuk
mengenal nilai budaya lokal. Di manapun lokal itu. Hitung saja, berapa banyak
festival budaya yang mengusung cara hidup masyarakat dengan adat tertentu. Festival
Lembah Baliem di Wamena, Festival Danau Sentani, Festival Adat Kamoro, Festival
Pasar Terapung di Kalimantan Selatan, Dieng Culture Festival, Festival Budaya
Lombok, dan masih banyak lagi yang lainnya. Ini
di luar upaya menjualnya sebagai sebuah pertunjukan wisata ya. Nantilah kita bincangkan
tersendiri tentang itu.
Buatku,
ketika cara hidup disajikan dalam bentuk festival, artinya keseharian kita
memang sudah jauh dari apapun yang disajikan dalam festival itu. Kita,
orang-orang yang tinggal di posisi geografis budaya tersebut. Kemungkinan besar
adalah pendatang, tapi bisa jadi warga asli yang sudah cukup jauh dari
budayanya sendiri.
Tentang
festival, dan kita. Pertanyaan yang muncul di kepalaku salah satunya adalah
apakah kita sebegitu teguhnya dengan cara hidup yang kita anggap sudah sangat
keren dibanding budaya lain, sampai-sampai muatan pendidikan ditonjolkan
sedemikian rupa untuk mempertahankan sebuah nilai budaya?
Iya,
aku menghakimi kita semua. Berharap kita, terutama aku, lebih menghargai apa
yang aku lihat sehari-hari. Sederhananya misalnya, ketika kita datang ke Wamena
yang sejak dulunya makan hipere, ya udah sik makan hipere saja kita
sehari-hari. Tak perlu juga harus cari-cari nasi. Atau ketika jalan-jalan ke
Timika Pantai, masuk rawa, nemu Tambelo, ya udah santai aja ikutan makan
seperti mereka.
Ada
yang ga cocok? Merasa haram atau sulit menerima sesuatu yang asing? Ya udah
sopan aja menolak. Tapi jangan semua ditolak, apalagi protes keras merasa yang
kita punya lebih juara. Tak perlulah kita membandingkan, tak perlu berusaha
mengubah ketika perubahan itu berasal dari kepala kita, kepalaku.
Memasuki
sebuah lingkungan yang asing dari diri kita itu resikonya memang harus ikut
setidaknya secuil. Kalo gamau nyoba sedikitpun, sudah tinggal saja di rumah
sendiri dan menonton segalanya lewat tv.
Tentang
perubahan. Yang paling tahu tentang kehidupan sebuah masyarakat adalah warganya
sendiri. Betul, ada akulturasi budaya. Betul, ada perubahan hidup yang membuat
mereka harus beradaptasi. Betul bahwa pada suatu titik, masyarakat mereka
harus mampu berubah untuk bertahan hidup.
Tapi,
bisakah kita sabar untuk membantu saja langkah mereka? Bisakah aku menahan
agendaku saat menyaksikan mereka berubah? Bisakah aku menyimpan agendaku
tepat pada saat mereka memberiku kehormatan untuk mendampingi mereka berubah? Bisakah kita?
Aku
tahu itu tidak mudah. Tapi aku tahu aku harus bisa. Kita seharusnya bisa.
Atau, pergi saja dari situ
supaya tak mengganggu. Hidup mereka punya mereka. Seperti hidupku adalah
punyaku.
Tabik!