Minggu, 04 Desember 2016

Ketika Hidup Dikemas dalam Festival


Ini bukan cerita tentang para seniman dan budayawan yang hidup dan menghidupkan festival. Tidak, bukan tentang mereka secara pribadi. Tapi tentang kita.

Iya, kita yang mengenal nilai hidup melalui pertunjukan berupa festival.

Aku tinggal di Papua sudah sekian tahun. Bukan kelahiran Papua, datang ke Papua ‘sendiri’ tanpa keluarga, dan bahkan awalnya tanpa kenalan sama sekali. Aku datang untuk bekerja. Dengan alasan awal adalah pergi ke Papua yang eksotis. Dan setelah sekian tahun, masih saja aku menemui respon teman yang begini, “Wow, hebat ya kamu bisa jauh sekali!” “Wah, asik ya di Papua!” “Wah, emang kamu bener-bener belum berubah ya, klayapan mulu!”

Hahaha, yang dimuat komen narsis semua yak ;p

Anyway, sekian tahun di Papua. Seperti juga komen teman-temanku, akupun mengharap bisa melihat eksotisme Papua yang aku dengar ketika dulu aku belum menginjak tanah ini. Aku mengharap betul-betul bisa merasakan segala yang pernah aku dengar. Bahkan sampai sekarang.

Tapi, hidupku ternyata tidak sejauh itu mendalami Papua. Aku tinggal di tempat yang sangat mirip….. dengan tempat asalku. Aku ketemu orang dengan pola pikir dan gaya hidup seperti yang ada di tv, kalo ga bisa aku sebut Jawasentris ya J

Hanya beberapa kali sepanjang sekian tahun ini aku bisa mengunjungi tempat-tempat eksotis. Mahal braaayyyyyy… hahaha! Ke pedalaman emang beneran mahal, dan perlu waktu sangat panjang kalo mau ‘menyelami hidup masyarakat asli’.

Tapi, (sebetulnya) alasan terbesarku adalah gamang. Aku akui aku asing dengan kehidupan asli masyarakat di tanah ini. Salahkan saja aku, yang tidak bisa melebur dengan lingkunganku sendiri. Aku terima.

Hey, kembali ke festival. Minggu lalu aku melihat sebuah festival masyarakat Kamoro. Di sana teman-teman dari suku Kamoro memakai pakaian tradisonal, mempertunjukkan tarian, menggelar hasil karya mereka, membuat simulasi pembuatan kerajinan, dan menggelar makanan tradisionalnya sejak dari proses sampai bagaimana makanan itu dimakan.

Yang datang ke festival ini, kebanyakan turis lokal. Ya yang seperti aku ini. Jadilah ada ajang foto-foto, bergaya bersama yang berpakaian tradisional, ikut menari dan bersenang-senang. Kami semua, menikmati dengan cara masing-masing. Dan kepalaku, sudah pingin menuliskan kegetiran lagi.

*oiya, rasanya kepala ini kok isinya protes melulu :D

Berbincang dengan mbak Luluk, pendamping grup ini, festival ini tujuannya adalah mengedukasi masyarakat di luar lingkungan asli Kamoro. Bahwa kehidupan mereka punya nilai sangat tinggi, dan perlu dihargai sebagai budaya khas yang tak perlulah dibandingkan dengan budaya lain, apapun alasannya. Karena budaya sifatnya sangat individual, tujuannya untuk melindungi dan menghidupkan masyarakatnya. Bukan sekedar menyamakan identitas dengan standard modernitas yang dibuat oleh budaya lain.

Kegemasanku justru berawal dari perbincangan itu. Betapa kita perlu sebuah festival untuk mengenal nilai budaya lokal. Di manapun lokal itu. Hitung saja, berapa banyak festival budaya yang mengusung cara hidup masyarakat dengan adat tertentu. Festival Lembah Baliem di Wamena, Festival Danau Sentani, Festival Adat Kamoro, Festival Pasar Terapung di Kalimantan Selatan, Dieng Culture Festival, Festival Budaya Lombok, dan masih banyak lagi yang lainnya. Ini di luar upaya menjualnya sebagai sebuah pertunjukan wisata ya. Nantilah kita bincangkan tersendiri tentang itu.

Buatku, ketika cara hidup disajikan dalam bentuk festival, artinya keseharian kita memang sudah jauh dari apapun yang disajikan dalam festival itu. Kita, orang-orang yang tinggal di posisi geografis budaya tersebut. Kemungkinan besar adalah pendatang, tapi bisa jadi warga asli yang sudah cukup jauh dari budayanya sendiri.  

Tentang festival, dan kita. Pertanyaan yang muncul di kepalaku salah satunya adalah apakah kita sebegitu teguhnya dengan cara hidup yang kita anggap sudah sangat keren dibanding budaya lain, sampai-sampai muatan pendidikan ditonjolkan sedemikian rupa untuk mempertahankan sebuah nilai budaya?

Iya, aku menghakimi kita semua. Berharap kita, terutama aku, lebih menghargai apa yang aku lihat sehari-hari. Sederhananya misalnya, ketika kita datang ke Wamena yang sejak dulunya makan hipere, ya udah sik makan hipere saja kita sehari-hari. Tak perlu juga harus cari-cari nasi. Atau ketika jalan-jalan ke Timika Pantai, masuk rawa, nemu Tambelo, ya udah santai aja ikutan makan seperti mereka.

Ada yang ga cocok? Merasa haram atau sulit menerima sesuatu yang asing? Ya udah sopan aja menolak. Tapi jangan semua ditolak, apalagi protes keras merasa yang kita punya lebih juara. Tak perlulah kita membandingkan, tak perlu berusaha mengubah ketika perubahan itu berasal dari kepala kita, kepalaku.

Memasuki sebuah lingkungan yang asing dari diri kita itu resikonya memang harus ikut setidaknya secuil. Kalo gamau nyoba sedikitpun, sudah tinggal saja di rumah sendiri dan menonton segalanya lewat tv.

Tentang perubahan. Yang paling tahu tentang kehidupan sebuah masyarakat adalah warganya sendiri. Betul, ada akulturasi budaya. Betul, ada perubahan hidup yang membuat mereka harus beradaptasi. Betul bahwa pada suatu titik, masyarakat mereka harus mampu berubah untuk bertahan hidup.

Tapi, bisakah kita sabar untuk membantu saja langkah mereka? Bisakah aku menahan agendaku saat menyaksikan mereka berubah? Bisakah aku menyimpan agendaku tepat pada saat mereka memberiku kehormatan untuk mendampingi mereka berubah? Bisakah kita?

Aku tahu itu tidak mudah. Tapi aku tahu aku harus bisa. Kita seharusnya bisa.
Atau, pergi saja dari situ supaya tak mengganggu. Hidup mereka punya mereka. Seperti hidupku adalah punyaku.

Tabik!

Senin, 21 November 2016

Tentang menjadi 'ada'

Semalam, seorang anak asrama dengan malu-malu tapi raut mukanya seneng banget, bicara padaku tak begitu jelas.
Tapi kira-kira begini, "Bu Lany waktu itu tanya, kita ibadah hari Kamis, bilang mau datang."
Sebetulnya sih panjang omongan dia, pake banget, dan ga jelas, hahahaa....

Satu hal yang aku pahami, dia ingat omonganku tentang mau datang ke asrama waktu itu. Dan dia senang, bukan sekedar karena aku ada di sini.

Ini lebih tentang perhatian sederhana.
Ini tentang terhubungnya kita dengan kesehariannya yang lebih nyata.
Ini tentang janji-janji yang terbayar.

Anak-anak, maunya sederhana. Kita ada di dekat mereka, bersama mereka. Bukan melihat mereka sekedar statistik yang perlu diberi fasilitas dan perlindungan berupa materi.

Hanya saja yang dewasa sering salah mengartikan. Merasa boneka, alat sekolah, tempat tinggal beratap dan berkasur, atau makan setiap hari saja sudah cukup buat mereka. Lalu sibuk dengan kerja yang katanya sih buat memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.

Pada anak itu, akhirnya (setelah sekian menit dan baru paham maksud dia 😁) aku bilang, "Oiyo to, sa su bilang mau datang. Makanya sa di sini ini sekarang."

Di kepalaku, aku sibuk berpikir, bagaimana aku bisa membuat orang-orang di sini melihat ke kedalaman kalian? Sementara waktuku terbatas sekali.

Minggu, 20 November 2016

Hello...

Ternyata, aku memulai ruang ini pada 2009 lalu. Waktu yang terlalu panjang, bahkan untuk seorang pemalas seperti aku. Meski sebetulnya ada saja cerita yang ingin dituliskan. Tentang perjalanan, tentang aku, tentang yang kutemui, tentang mimpi-mimpi, tentang banyak hal.

7 tahun adalah waktu yang sangat panjang untuk sebuah pertanyaan, "Karo sopo kowe saiki?", untuk berganti dengan pernyataan, "Maafkan aku yang tak bisa membuka diri."

7 tahun juga waktu yang sangat panjang, tentang kesadaran bahwa segalanya tak perlu lagi memberatkan langkah.
Jika mau, sudah lakukan saja sekarang.
Jika ingin, buat rencana nyata dan eksekusi dengan segera.

Sekarang sudah penghujung 2016. Setelah 7 tahun ruang ini terbiar hampa, aku hanya ingin membukanya kembali. Memberi kesempatan pada mimpi-mimpi dan langkahku untuk terbang dan terbaca tak hanya olehku.

Mungkin saja dengan begini, aku dan mimpiku akan terbang lebih jauh, lebih tinggi, dan tak perlu kembali lagi.